Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Lisan yang Berat Mengucapkan Kalimat Tauhid

Lisan yang Berat Mengucapkan Kalimat Tauhid

Pernah menyaksikan orang yang gemar mengumpat dan mencela? Atau kita sendiri masih suka mengumpat dan mencela? Had-hatilah dengan kebiasaan lisan kita karena itu merupakan gambaran dari akhir kehidupan kita, seperti kisah tra

Rabu, 02 Oktober 2013

Pernah menyaksikan orang yang gemar mengumpat dan mencela? Atau kita sendiri masih suka mengumpat dan mencela? Had-hatilah dengan kebiasaan lisan kita karena itu merupakan gambaran dari akhir kehidupan kita, seperti kisah tragis yang menimpa seorang pemuda yang dikisahkan oleh Manshur bin Nashir.

Seorang pemuda sedang mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi sambil mendengarkan tape recorder yang melantunkan musik-musik barat. Dalam perjalanan antara Mekkah dan Jeddah, mobil yang dikendarai oleh pemuda tersebut mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan. Penduduk setempat yang menyaksikan kejadian itu segera mengerumuni lokasi kejadian dan berusaha untuk memberi pertolongan.

Ketika sampai di tempat kejadian, mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mengenaskan. Pemuda tersebut berada dalam kondisi sakaratul maut. Mereka pun berusaha membimbing pemuda itu untuk melafadzkan kalimat tauhid.

"Wahai Saudaraku, ucapkanlah La ilaaha illallah," perintah mereka kepada pemuda tersebut.
Namun, sang pemuda tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Pemuda itu hanya bisa mengeluarkan gumaman yang tidak jelas dari bibirnya. Orang- orang terus berusaha membimbing pemuda itu untuk mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya. Akan tetapi, hingga mengembuskan napas yang terakhir, pemada itu tetap tidak mampu mengucapkan kalimat tauh id dengan benar.

Lidah pemuda itu berat mengucapkan kalimat tauhid. Hal ini karena selama hidupnya, ia tidak terbiasa men basahi lidahnya dengan kalimat-kalimat tauhid dan enggan berzikir kepada Allah. Sebaliknya, lidahnya sena itiasa digunakan untuk mengumpat, mencela, dan mengajak orang lain untuk bermaksiat kepada Allah. Demikian juga pendengarannya. Pendengarannya cenderung digunakan untuk hal-hal yang dibenci Allah; men dengarkan lagu-lagu yang merangsang syahwat dan kem; iksiatan-kemaksiatan lainnya.

Saudaraku, kita tidak tahu kapan ajal akan meng- hamoiri kita. Kita juga tidak pernah tahu sedang dalam kondisi apa kita dihampirinya. Sedang sakitkah? Dalam perjalanankah? Atau mungkin ketika sedang bermaksiat kepadanya (Astaghfirullah, semoga kita dilindungi-Nya dari kondisi ini).

Kita juga tidak tahu kapan ajal akan menghampiri kita. Satu tahun lagi? Dua tahun lagi? Atau bahkan be- bera pa menit lagi. Kita tidak tahu. Semua adalah misteri Allah semata.
Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi kita selain men persiapkan diri untuk menyambut kehadirannya. Menghiasi diri kita dengan amalan-amalan terpuji. Menjauh: segala bentuk maksiat dan membasahi lisan kita dengan zikir-zikir kepada-Nya.

"Lisan yang terbiasa dibasahi kalimat tauhid dan zikir kepada Allah, maka saat ajal menghampirinya, ia tidak akan mengucapkan kalimat lain selain zikir kepada Allah. Demikian juga sebaliknya, lisan yang akrab dengan kata-kata maksiat, hawa nafsu, celaan, umpatan, dan ejekan, maka kata-kata itu juga yang akan mampu diucapkan oleh lisan di akhir hayatnya. Wallahualam. "

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa