Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Menggantungkan Harapan Hanya Kepada Allah!

Menggantungkan Harapan Hanya Kepada Allah!

Pada jaman Bani Israil, ada dua orang bersaudara, yang satu mukmin (muslim) dan yang satunya lagi kafir. Keduanya bekerja sebagai nelayan.

Rabu, 25 September 2013

Pada jaman Bani Israil, ada dua orang bersaudara, yang satu mukmin (muslim) dan yang satunya lagi kafir. Keduanya bekerja sebagai nelayan. Sebelum melempar jaringnya, si kafir bersujud dahulu kepada berhala, setelah itu baru melemparnya ke laut. Tak lama kemudian, jaring-jaring itu pun penuh dengan ikan, bahkan hampir-hampir la tidak kuat mengangkatnya. Sementara si mukmin juga melemparkan jaringnya, ketika jaring diangkat ia hanya mendapatkan seekor ikan. Akan tetapi ia tetap memuji, bersyukur dan bersabar kepada takdir Aliah.

Suatu hari, istri si mukmin naik ke atas loteng, tiba-tiba ia melihat istri saudara suaminya yang kafir tadi mengenakan perhiasan yang indah, maka hatinya digoda dan dikuasai setan. Berkatalah istri si kafir, "Bilang pada suamimu agar menyembah Tuhan suamiku, supaya kamu bisa mengenakan perhiasan yang indah seperti aku!"

Lalu istri si mukmin turun dalam keadaan gundah. Ketika sang suami datang dan ia mendapati istrinya dalam keadaan berubah raut wajahnya, maka sang suami bertanya, "Apa yang telah terjadi padamu?"

Istrinya menjawab, "Pilih salah satu, engkau ceraikan aku, atau sembahlah Tuhan yang disembah saudaramu!"
Si suami pun kaget, "Masya Allah!" ia terkejut. Lalu berkata, ’’Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Apakah kamu akan kufur setelah beriman?"

Istrinya menyahut, "Jangan terlalu banyak menasihatiku! Tidakkah kamu lihat, aku tidak memiliki apa-apa, sementara orang lain menggunakan perhiasan yang mahal."

Ketika si mukmin melihat kesungguhan istrinya, ia pun berkata, "Janganlah kamu mengeluh! Insyaallah, besok aku akan bekerja pada seseorang yang setiap hari akan menggajiku dua dirham. Lalu aku akan memberikannya padamu, supaya kamu bisa berhias diri."

Si istri pun setuju. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si suami sudah pergi ke tempat berkumpul para pekerja dan duduk di antara mereka, tetapi sampai sore hari tidak ada seorang pun yang menyewanya. Ketika ia putus harapan dari orang yang mempekerjakannya, maka ia berjalan menuju pantai dan beribadah sampai malam, kemudian ia pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, istrinya bertanya, "Dari mana saja kamu?"

Suaminya, "Aku dari seorang majikan, dia berjanji untuk mempekerjakanku selama tiga puluh satu hari." Istrinya bertanya lagi, "Berapa gaji yang diberikan padamu?"

Suaminya menjawab, "Majikanku itu dermawan, hartanya tak terhitung, dia berjanji kalau aku mau bekerja padanya tiga puluh satu hari, maka ia akan memberikan apa yang aku inginkan."

Istrinya menerima. Kemudian, setiap hari si suami tadi mendatangi pantai dan beribadah di sana, sampai pada hari yang ketiga puluh istrinya berkata, "Jika sampai besok kamu tidak mendapatkan apa-apa, maka ceraikan aku!"

Esok paginya, sang suami pergi lagi karena takut ancaman istrinya. Lalu ia bertemu seorang Yahudi dan bertanya, "Apakah kamu mau bekerja?"
"Ya," jawabnya.

Yahudi mensyaratkan agar orang tadi tidak makan ketika bekerja padanya. Maka ia pun berpuasa pada hari itu. Kemudian Aliah memberikan wahyu kepada Jibril agar Jibril membawa baki cahaya yang berisi dua puluh sembilan dirham untuk diberikan pada istri orang yang beriman tadi. Allah berfirman, "Berikanlah uang ini dan berkatalah padanya bahwa engkau adalah pesuruh raja, dan raja berpesan padamu, ’Selama ini suamimu bekerja pada-Ku dan Aku tidak pernah meninggalkanya sampai suamimu meninggalkan Aku, dan bekerja pada orang Yahudi. Jadi, pengurangan ini adalah sanksi karena suamimu telah mengikuti si Yahudi. Andaikan suamimu tetap bekerja pada-Ku, niscaya Aku akan menambahnya."

Kemudian perempuan tersebut mengambil satu butir dinar dan pergi ke pasar, ia pun menukarkan dinar tersebut dengan seribu dirham, karena pada mata uang tersebut terdapat tulisan: La ilaha ¡Hallah wahdahu la syarikalah.

’ Ketika sang suami pulang ke rumahnya, berkatalah istrinya, "Dari mana saja kamu?"
"Aku bekerja pada seorang Yahudi," jawab suaminya.

Si istri berkata lagi, "Hai, orang miskin! Bagaimana bisa kamu meninggalkan pelayanan terhadap majikan yang dermawan, lalu berpindah melayani yang lain?" Sang istri pun menceritakan semua kejadianya, sehingga menangislah ia sampai pingsan. Ketika tersadar, ia berkata pada istrinya, "Aku telah melayani si Yahudi dan melupakan hak-hak Sang Majikan yang Dermawan."

Lalu ia menceraikan istrinya dan pergi ke puncak gunung untuk beribadah di sana sampai mati.

Sumber :
Sumber

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa