Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Nikmat Terbesar Manisnya Iman

Nikmat Terbesar Manisnya Iman

Hidup di dunia sering membuat panik. Rezeki sempit, posisi sulit, kondisi yang serba tidak stabil, terkadang membuat manusia galau. Demi menghilangkan kegalauan hati, manusia perlu mencari rahmat dan pahala dari Allah, Tuhan

Minggu, 30 Juni 2013

Hidup di dunia sering membuat panik. Rezeki sempit, posisi sulit, kondisi yang serba tidak stabil, terkadang membuat manusia galau. Demi menghilangkan kegalauan hati, manusia perlu mencari rahmat dan pahala dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa. Rahmat yang dengannya hati akan merasa berkecukupan, dan pahala yang dengannya jiwa menjadi gembira.

Hanya manusia yang memiliki kedalaman iman dan ketawakalan kuat yang tidak pernah galau dan sedih terhadap dunia ini. Meski rezeki sedikit, mereka masih bisa berbagi. Dalam kondisi sulit, mereka pun masih dapat memberi.

Ibnu Abbas meriwayatkan seperti yang dinukil dalam Tafiir Al-Qurthuby bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan perbuatan Ali bin Abi Thalib, salah seorang sahabat Nabi Saw yang terkenal fakir, yang memiliki harta hanya empat dirham. Ia menginfakkan satu dirham di waktu malam dan satu dirham di waktu siang. Satu dirham, ia infakkan dengan cara sembunyi dan satu dirham sisanya, ia infakkan dengan cara terang-terangan. Empat dirham yang ia miliki seluruhnya diinfakkan di jalan Allah Swt. Empat dirham yang ia miliki, ia habiskan dalam sehari semalam tanpa tersisa.

"Orang - orang yang menafkahkan Hartanya di malam dan di siang hari
secara Tersembunyi dan terang-terangan, mereka
Mendapat pahala di sisi Tuhannya Tidak ada kekhawatiran bagi mereka
dan Tidak pula mereka bersedih hati."
(Qs Al-Baqorah :274)

Ia tidak pernah merasa khawatir terhadap hari esok yang telah Allah jamin rezekinya. Perniagaan dengan Allah ia dahulukan, sebab Allah berjanji akan menggantinya dengan balasan terbaik. Bukankah Allah menjanjikan balasan 700 kali lipat bagi mereka yang berinfak di jalan-Nya, bahkan lebih dari itu.

Mereka yang berinfak di jalan Allah tentu saja berlandaskan keimanan. Iman adalah nikmat dari Allah Swt, bahkan ia adalah nikmat yang paling besar. Dengan iman, manusia keluar dari kejahilan menuju pengetahuan, dari kegelapan menuju cahaya, dan dari menyembah hamba menuju menyembah Tuhan para hamba.

"Ya Tuban kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). "(QS. Ali Imran )

Iman adalah hidayah dari Allah Swt. Dia memberi hidayah atau petunjuk bagi orang yang dikehendaki-Nya. Ayat di atas merupakan permohonan hamba dalam memperkokoh iman dan keyakinan, menjauhi keraguan dan syak. Terdapat perbedaan yang sangat besar antara hati yang kokoh iman dengan hati yang selalu condong dari kebenaran. Hati itu berada dalam genggaman Allah Swt, Dia yang membolak - balikkannya sesuai kehendak -Nya.

Ayat di atas juga sebagai doa permohonan rezeki, karena Allah yang memberi rezeki setiap makhluk tanpa dapat dihitung jumlahnya.

Kokohkan dan tetapkanlah hati pada kebenaran dan keyakinan, dan tetapkan pula langkah-langkah kaki pada jalan yang lurus. Dalam hal ini, Rasulullah memberi kita amalan doa,

" Ya Allah, aku memohon pada-Mu perlindungan dari keburukan pendengaranku, keburukan penglihatanku, keburukan lisanku, keburukan hatiku, dan keburukan kedua mataku."
(HR. An- Nasa’i)

Agar hati setiap hamba semakin merasa tenang, selain dengan berdzikir kepada Allah Swt harus disertai dengan takwa kepada- Nya. Karena dengan bertakwa, Allah Swt akan memberikan jalan keluar dari segala himpitan dan kecemasan yang menimpa. Tidak hanya itu, Allah juga menjanjikan kabar gembira dengan jaminan datangnya rezeki yang tiada disangka-sangka.

Mari kita memperkokoh iman, beramal saleh, berbekal dengan takwa, berlaku jujur, berakhlak baik, dan menjauhi dusta serta akhlak yang tidak terpuji.

"Ya Tuhan kami, aku berlindung pada-Mu dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung pula dengan-Mu, wahai Tuhan kami, dari kedatangan mereka kepadaku. "
(QS. Al-Mukminun [23]: 97)

Oleh karena itu, kini saatnya bagi setiap muslim untuk membuktikan janji Allah dalam berinfak. Dengan berinfak, kita akan mendapatkan pahala-Nya. Dengan berinfak, segala kegalauan, kerisauan, kesedihan, dan kepanikan hati akan dihilangkan. Bukankah ini sebuah kabar gembira bagi Anda yang selalu resah?!

dikutip dari : Buku Meraih Rezeki Tak Terduga
Karya Bobby Herwibowo

comments powered by Disqus

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiiq

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi - radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakekn

connect with abatasa