Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Pemuda Taat dan Gadis Cantik

Pemuda Taat dan Gadis Cantik

Kisah ini adalah kisah klasik dan mengandung pelajaran dan peringatan yang bermanfaat bagi setiap pemuda yang taat.

Senin, 27 Mei 2013

Kisah ini adalah kisah klasik dan mengandung pelajaran dan peringatan yang bermanfaat bagi setiap pemuda yang taat.

Diriwayatkan dari Ahmad bin Sa’id al-’Abid dari ayahnya, dia bercerita sebagai berikut.
Di daerah kami, di Kufah, ada seorang pemuda yang rajin beribadah di masjid jami. Dia hampir tidak pernah absen. Dia tampan dan rupawan. Ada seorang gadis cantik dan cerdas melihatnya, lalu sang gadis jatuh hati kepadanya. Cinta sudah lama mendekam di hatinya.

Suatu hari, sang gadis menghadangnya di jalan, saat sang pemuda hendak ke masjid.
"Pemuda, dengar beberapa patah kata dariku untukmu, kemudian kerjakan apa yang kamu mau," ujar sang gadis. Pemuda itu berlalu dan tidak menanggapinya.

Kemudian saat sang pemuda hendak pulang ke rumahnya, sang gadis menghadangnya di jalan, "Hai Pemuda, ada beberapa patah kata yang hendak aku katakan kepadamu," ujar sang gadis. Pemuda itu termenung, lalu berkata, "Ini adalah situasi yang rawan tuduhan (fitnah) dan aku tidak ingin diriku terkena fitnah."

"Demi Allah, aku berdiri di sini bukan karena aku tidak tahu tentang dirimu. Tapi aku mohon perlindungan kepada Allah, jika ada kaum lelaki yang berbuat seperti ini kepadaku. Yang membuat diriku mengambil jalan ini adalah pengetahuanku bahwa kejadian seperti ini walapun sedikit, tapi menurut orang-orang adalah banyak. Padahal kalian, wahai para pria di desa ini, kalian bisa diubah oleh hal-hal yang kecil. Ringkasnya, yang ingin kukatakan kepadamu adalah bahwa diriku sibuk memikirkan dirimu. Maka biarlah Allah yang menjadi hakim dalam urusan kita," papar sang gadis.

Lalu sang pemuda pulang ke rumahnya. Dia hendak shalat, namun dia tidak sadar bagaimana dia shalat. Dia mengambil kertas dan menulis sebuah surat, lalu keluar dari rumahnya. Ternyata gadis itu masih berdiri di tempatnya. Sang pemuda memberikan surat itu kepadanya dan pulang lagi ke rumahnya.

Isi surat itu adalah:
          
   
 
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketahuilah, wahai Gadis. Allah itu Maha Penyayang. Apabila hamba-Nya bermaksiat, Allah menutupinya. Jika hamba kembali lagi ke maksiat, Allah tetap menutupinya. Namun apabila hamba itu tidak mau lepas dari maksiat, maka Allah akan murka yang membuat langit, bumi, gunung, pepohonan dan binatang merasa sesak. Siapa yang kuat melawan murka Allah? Jika yang kamu paparkan tadi itu sebuah kebatilan, maka aku mengingatkanmu dengan hari di mana langit seperti lelehan logam dan gunung seperti kapas. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mampu memperbaiki diriku sendiri, bagaimana mungkin aku mampu memperbaiki orang lain? Dan jika yang kamu ceritakan tadi itu benar, maka aku ingin menunjukkan kepada dirimu seorang dokter yang bisa menyembuhkan luka yang perih dan sakit yang parah, yaitu Allah, Tuhan seluruh alam. Maka mohonlah kepada-Nya dengan tulus. Karena aku sibuk darimu dengan firman Allah, ’Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya). Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada’ (al-Mu’min [40]: 18-19). Ke mana kita akan lari dari ayat ini?"
                                                                                                      
     
Beberapa hari kemudian, gadis itu berdiri di jalan sang pemuda. Saat sang pemuda melihatnya dari jauh, dia hendak pulang ke rumahnya agar tidak bertemu gadis itu, namun sang gadis berkata, "Pemuda, jangan pulang. Setelah ini, tidak ada pertemuan lagi kecuali di hadapan Allah."

Gadis itu menangis banyak sekali, lalu dia melanjutkan bicaranya, "Aku memohon kepada Allah yang memegang kunci hatimu untuk memudahkan segala kesulitanmu." Kemudian sang gadis melanjutkan, "Berilah aku sebuah petuah untuk aku bawa dan berilah aku nasihat untuk aku amalkan."

Lalu sang pemuda menjawab, "Aku berpesan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dan menjaga diri. Serta ingatlah firman Allah, ’Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari....’(al-An’am [6]: 60)." Sang gadis tercenung dan menangis lebih keras daripada yang pertama.

Kemudian sang gadis hanya tinggal di rumah dan khusyuk beribadah kepada Allah. Begitulah keadaannya sampai dia meninggal. Pemuda itu selalu mengingatnya dan menangis karena kasihan kepadanya.

Wanita ini walaupun tidak mendapatkan kekasih pujaan hatinya, namun dia mempunyai maksud yang baik. Maka Allah memberinya anugerah ampunan dan memberinya kemudahan beribadah melalui perantara pemuda itu. Mudah-mudahan dia di akhirat mendapatkan tujuannya dan berkumpul bersama sang kekasih.

Ya Allah, kami mohon kepadamu keteguhan hati. Amin.

Sumber : Kisah Pengunggah Jiwa Karya  Abdurrahman Bakar

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa