Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Mencari Makna Kehidupan

Mencari Makna Kehidupan

Bagai telur di ujung tanduk,barangkali begitulah melukiskan keadaan kondisiku saat ini, Panggil saja paija,aku seorang anak perempuan yang cacat tampa kaki sebelah,tp semua itu tak pernah menyurutkan aku mencari biaya

Rabu, 22 Mei 2013

Bagai telur di ujung tanduk,barangkali begitulah melukiskan keadaan kondisiku saat ini,
Panggil saja paija,aku seorang anak perempuan yang cacat tampa kaki sebelah,tp semua itu tak pernah menyurutkan aku mencari biaya untuk keluargaku,bapak ku sudah meninggal waktu adik bungsuku masih bayi,kini mak dan ke 6 keluargaku tinggal di sebuah gubuk kecil di pingiran kota,pada waktu pagi semua terlelap tidur aku bergegas mencari rejeki di pinggiran jalan raya untuk mengamen,mungkin karena kondisiku yang cacat sering kali ejekan demi ejekan aku terima dari temanku,sedih hati ini tidak semua orang berharap menjadi orang yang cacat.

Umur 14 tahun,ibuku sakit parah dan akhirnya meninggal,menyesal hati ini,andaikan aku punya uang yang banyak pasti nyawa ibuku terselamatkan,tp penghasilanku tidak seberapa hanya cukup untuk makan adik2 ku,kini beban semakin di pundak ku,rasa ingin sekolah aku tepis jauh2 aku harus bisa menjadi bapak dan ibu untuk 1 kakak perempuanku yang berumur 17 tahun dan adik2ku,tiap pagi sampai soreh ku berjuang mencari rejeki,sedangkan kakak sibuk mengurus di rumah merawat adik2 ku.

Kadang lelah tenaga ini lelah pikiran ini,tp hidup harus di jalani,tiap pagi aku bagaikan menjadi bapak untuk adik2ku yang mau berangkat sekolah untuk meminta uang saku.

Air mata ini menetes,jika melihat adik kecilku tidur berjejer bagaikan pindang asin yang di pajang di pasar.ku hanya bisa memandang baju dan alas tidur yang tak layak di pakai buat mereka tp apa daya aku sudah berusaha membahagiakan mereka tp aku aku sungguh sudah maksimal.

Terbesit di benak ini,aku ingin adik adiku hidup layak tidak kesusahan seperti aku dan kakak ku,akhirnya ku putus kan aku mendatangi sebuah panti asuhan dan mengharap sudi kiranya panti asuhan itu merawat adik2ku.

Alhamdulillah ALLAH MAHA BESAR,mereka dengan senang hati menerima ke empat adiku,dengan dalih berbohong ku ajak mereka ke sebuah rumah besar dan bersih yaitu pondok sebuah yatim piatu,Air mata ini meleleh di kalah melihat adik2 ku berlarian ke lapangan dan main ayun2an aku belum pernah sekalipun melihat wajah bhagia mereka seperti saat ini,tiba waktunya aku undur diri,pak ustat pun berharap aku tinggal di tempat ini,tp ku tolak permintaan itu,kakak ku akan menikah dia akan tinggal dengan suaminya aku akan menempati rumah kecil peninggalan bapak ibuku.

Ku cium adiku satu persatu,mereka melihat air mataku membasahi pipiku,dan bertanya " kenapa kakak menangis.." ujar salah satu adiku, "kakak hanya capek ujarku,kalian di sini baik baik dengarkan kata pak ustat dan ibu2 yang merawat kalian..!!" kataku sambil berlinangan air mataku.

"tidak kak,kita mau ikut kakak saja kami janji gak nakal jangan tinggal kami kak..." ujar salah satu adiku,betapa runtuh hati jiwa ini,belum pernah sekalipun kami berpisah,tp demi kebahagiaan mereka ini harus di terjadi,

"Dengar ya,kalau kalian masih menangis dan gak dengar omonganku jangan harap kalian bertemu aku lagi.." kataku sambil sedikit membentak.

"iya kak,kami janji akan patuh sama pak ustat dan ibu di sini yang merawat kami,tapi kakak janji jangan pernah tinggal kan kami..."

Ya allah,sungguh aku tak mampu menrima ucapan salah satu adiku,aku sungguh gak mampu ku peluk mereka dan kami pun menangis bersama sama.dan aku pun berpamitan pada adik2ku "jaga diri kalian baik2,lain kali kakak akan datang menjenguk kalian.."ujarku.

"iya kakak,kami tunggu,kata si bungsu,da ..da ..da kakak ..cepat jenguk kami lagi ya,"dia lambaikan tangan untuku sambil ku lihat air mata mereka menetes di pipinya.

Akupun berpamitan,sekali lagi pak ustat menawariku tinggal di asrama,tp aku tolak,aku ingin merawat rumah peninggalan orang tuaku.

Setelah ku keluar dari pintu pagar,ku lihat adik bungsuku lari mengejarku sambil menangis memanggil namaku,dengan cepa2 aku langkahkan kaki ini yang di temani sebuah kayu untuk menghindari adiku.

"Kakakkkkkkkkkk....jangan tinggal kan kami,aku mau kakak...." ku dengar rengekan si bungsu,aku yang sembunyi di balik mobil yang terparkir di depan asrama pun tak mampu memendung air mata,MAAF kan aku,,ini semua demi kebaikan kalian batinku.

Kini rumah yang aku tempati begitu sepi.tak terasa air mata ini jatuh di pipi,aku rindu adik2 u,aku rindu canda tawa mereka,aku rindu melihat mereka gembira sekali di saat aku pulang ngamen ku bawakan cilok kesukaan mereka,tp kini hidupku sunyi sepi,tapi aku berharap mereka akan sukses suatu kelak tidak seperti aku yang cacat dan tidak berpendidikan sama sekali,malam telah larut,mata ini ingin ku tutup,tapi air mata ini tetap meleleh..AKU KANGEN KALIAN DIK ucap lirihku dan akhrinya aku pun tertidur.

Disadur ulang dari Kumpulan Kisah AIR MATA IBU

comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa