Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Essaffah (Si Penyambut)

Essaffah (Si Penyambut)

Sudah bukan menjadi rahasia bahwa Rasulullah saw. juga dikenal selalu menyambut ramah para tamunya. Beliau pun tak segan-segan untuk menjamu para tamunya itu meski Rasulullah saw. sendiri sedang kekurangan. Kisah berikut adal

Kamis, 28 Maret 2013

Sudah bukan menjadi rahasia bahwa Rasulullah saw. juga dikenal selalu menyambut ramah para tamunya. Beliau pun tak segan-segan untuk menjamu para tamunya itu meski Rasulullah saw. sendiri sedang kekurangan. Kisah berikut adalah buktinya.

Menjelang Zuhur, Rasulullah saw. kedatangan seorang tamu jauh. Tamu ini tampak begitu kelelahan dan kelaparan. Setelah menyuruhnya masuk untuk beristirahat, Rasulullah memanggil budak beliau bernama Abu Rafi’.

"Masaklah sedikit gandum untuk orang ini. Sungguh, ia telah menahan lapar dan aku mengetahuinya."
"Tetapi ya Rasulullah, kita tidak mempunyai sedikit pun tepung gandum yang tersisa."
"Kalau demikian, datanglah kepada seorang Yahudi di pasar dan katakanlah aku berniat membeli tepung gandumnya dan aku akan membayarnya secara tunda pada bulan Rajab yang akan datang."

Abu Rafi’ bergegas menuju pasar dan menemukan orang yang dimaksud. Namun, si Yahudi berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menjualnya secara tunda, kecuali dengan jaminan. Maka berikanlah akujaminan."

Abu Rafi’ pulang dengan tangan hampa dan memberi tahukan hal ini kepada Rasulullah saw.. Mendengar hal ini, Rasulullah bersabda, "Demi Allah, aku sungguh termasuk orang yang dapat dipercaya (aminun) di langit dan di bumi. Kalau dia mengutangiku sesuatu, aku akan membayarnya. Tetapi baiklah, jika itu permintaannya. Bawalah baju besi ini sebagai jaminan tepung gandum untuknya."

Abu Rafi’ segera kembali mendatangi si Yahudi dan menyerahkan jaminan berupa baju besi tersebut. Si Yahudi lalu menyerahkan sekantong tepung gandum. Se-sampainya di rumah, Abu Rafi’ segera memasak tepung gandum tersebut dan menyajikan untuk tamu Rasulullah. Tamu ini makan dengan lahap dan berterima kasih atas kebaikan Rasulullah saw.

Begitulah kemurahan hati dan keikhlasan Rasulullah dalam menyambut tamunya. Konon, baju besi itu belum sempat Beliau tebus karena Beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awal, empat bulan sebelum jatuh tempo. Subha- nallah.

     
                                            
 "Sambutlah tamu-tamu Anda dengan ramah dan ikhlas, agar rumah Anda dipenuhi berkah. "                                             
     


comments powered by Disqus

Kisah Seekor Ulat Dengan Nabi Daud A.S

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud A.S sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

connect with abatasa