Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Kerelaan Ibu Musa Ketika Kehilangan Musa

Kerelaan Ibu Musa Ketika Kehilangan Musa

Kisah ini bermula dari mimpi Fir`aun bahwa api yang datang dari arah Baitul Maqdis dan membakar rumah-rumah beserta orang-orang Mesir tapi tidak membahayakan bagi Bani Israil. Ketika bangun, Fir’aun terkejut. Ia pun mengumpul

Rabu, 09 Januari 2013

Allah swt berfirman,
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; ’Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (al-Qashash [28]: 7)

Kisah ini bermula dari mimpi Fir’aun bahwa api yang datang dari arah Baitul Maqdis dan membakar rumah-rumah beserta orang-orang Mesir tapi tidak membahayakan bagi Bani Israil. Ketika bangun, Fir’aun terkejut. Ia pun mengumpulkan semua ahli sihir, dukun, dan tukang teluh. Ia menanyakan kepada mereka tentang mimpi itu.

Mereka berkata: "Api ini adalah anak laki-laki yang dilahirkan dari mereka (Bani Israil). Dialah penyebab hancumya penduduk Mesir." Kemudian Fir’aun memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki yang lahir dan membiarkan anak perempuan.

Tatkala bala tentara Fir’aun melaksanakan perintahnya, penduduk Mesir ketakutan. Mereka mengadu kepada Fir’aun tentang sedikitnya Bani Israil, yang kemungkinan tidak menetap dengan berlalunya waktu yang panjang. Akhirnya ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki dalam satu tahun dan membiarkannya setahun berikutnya.

Musa lahir pada masa terjadi pembunuhan. Akan tetapi, ibunya dapat menyembunyikan kehamilannya dari orang-orang Fir’aun yang dengan cermat memeriksa semua wanita Bani Israil dengan menggunakan alat -sehingga dapat diketahui siapa yang hamil di antara mereka.

Ketika Ibu Musa hendak menaruh anak laki-lakinya, Nabi Musa, tiba-tiba anak itu tergelincir. Apa yang dilakukan ibu Musa? Apakah ia akan ketahuan lalu dibunuh? Allah menurunkan "wahyu" kepadanya. Ibnu Katsir dan lainnya mengatakan bahwa itu bukan wahyu seperti yang diturunkan kepada para Nabi, melainkan sebuah petunjuk dari Allah swt agar dapat menyusuinya.

Apabila ia takut anaknya dibunuh, hendaklah ia meletakkannya di sebuah kotak kemudian membuangnya ke laut. Pasti Allah swt akan mengembalikan kepadanya dalam keadaan sehat dan dijadikan salah seorang dari Rasul-rasul Allah swt. Ibu Musa rela dengan ketentuan dan takdir-Nya sehingga ia membuang anaknya ke laut sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt.

Akhirnya Musa ditemukan oleh keluarga Fir’aun. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa para dayang mengambilnya dari laut dalam sebuah kotak yang tertutup. Mereka langsung membukanya dan menyerahkannya kepada Asiyah, istri Fir’aun. Ketika ia membuka kotak tersebut dan menyingkap penutupnya, maka terpancarlah dari wajahnya (Musa-ed) cahaya keagungan dan cahaya kenabian yang sangat ia sukai.

Tatkala Fir’aun datang, ia menyuruh membunuh anak itu. Tapi istri Fir’aun malah berkata:
"Ia adalah penyejuk mata untukku dan untukmu."
"Bagi kamu ya, tetapi bagi saya tidak." Jawab Fir’aun.

Kemudian Allah menghalangi wanita-wanita yang datang untuk menyusuinya, sehingga saudara perempuannya berkata kepada mereka: ‘Apakah kalian ingin kami tunjukkan keluarga yang dapat memeliharanya?"
Mereka berkata kepada saudara perempuan itu: "Apa yang kamu kehendaki (dengan memberi tahued) terhadap mereka yang dapat memelihara dan memberi kasih sayang kepadanya?" Perempuan itu berkata: "Saya senang jika istana diselimuti kebahagiaan dan berharap ini bermanfaat.

Demikian Musa kembali kepada ibunya hingga sejuk pandangannya dan ia bergembira dengannya. Istri Fir’aun juga memberi gaji kepadanya. Mahasuci Allah swt.

Dikutip dari Agar Selalu Menerima Takdir
Allah
Manshur Abdul Hakim
Penerbit : Magfirah Pustaka

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa