Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Ujian untuk Nabi Musa

Ujian untuk Nabi Musa

Rasulullah Saw. pernah bersabda: ``Sesungguhnya balasan yang besar itu bersama sebuah musibah yang besar pula. Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi, jika Dia mencintai seorang hamba, maka dia akan mengujinya. Apabila ia bersab

Kamis, 27 Desember 2012

"Tuhanmu telah mengutus kami untuk mengujimu. Apakah engkau
bersabar dengan ketetapan Allah ataukah tidak. Oleh karena itu,
 kami datang kepadamu menyerupai burung elang
 dan burung putih yang kecil seperti ini."

Rasulullah Saw. pernah bersabda: ’’Sesungguhnya balasan yang besar itu bersama sebuah musibah yang besar pula. Sesungguh¬nya Allah Yang Mahatinggi, jika Dia mencintai seorang hamba, maka dia akan mengujinya. Apabila ia bersabar terhadap ujian itu, Allah akan memilihnya. Dan jika ia ridha dengan ujian itu (yakni menerima dengan ikhlas), maka Allah juga akan memilihnya."

Sabda Rasulullah Saw. tersebut menunjukkan bahwa para nabi dan rasul sebetulnya memiliki tingkat ujian yang jauh lebih besar daripada yang kita hadapi sebagai manusia biasa. Karena sudah teruji itulah, maka mereka dipilih oleh Allah sebagai kekasih-Nya. Demikian pula para wali dan kekasih Allah yang lainnya.

Mereka semuanya mengalami ujian yang sangat berat dan kadang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu, bersyukurlah jika kita mengalami musibah, sebab itu merupakan pertanda bahwa Allah ingin memilih kita.
Kisah berikut ini merupakan sebuah ujian dari Allah yang ditujukan kepada Nabi Musa. Pada suatu hari, Nabi Musa sedang berjalan dengan Yusa’ bin Nun. Tiba-tiba ada seekor burung putih terbang di atas mereka dan turun menukik.

Burung itu persis hinggap di pundak Nabi Musa. Burung itu berkata kepada Nabi Musa: "Nabiyyullah, lindungilah aku dari pembunuhan pada hari ini."
Nabi Musa membiarkan burung itu di pundaknya seraya mengajaknya berbicara. "Siapa yang akan membunuhmu?" tanya Nabi Musa.

Burung itu menjelaskan, bahwa seekor burung elang sedang mengejarnya dan ingin memangsa dirinya. Tak lama kemudian, datanglah burung elang yang dimaksud menuju ke arah Nabi Musa. Burung putih yang kecil tadi segera bersembunyi ke dalam lengan baju Nabi Musa.

"Nabiyullah, janganlah engkau menghalangiku dari buruanku," ujar burung elang itu kepada Nabi Musa. Mendengar perkataan burung elang itu, Nabi Musa berusaha untuk melakukan negosiasi dengannya.
"Bagaimana jika aku menyembelihkan seekor kambing untukmu, dengan catatan engkau tidak memangsa burung kecil ini?" tanya Nabi Musa.

Namun, burung elang itu menolak. "Daging kambing tidak cocok untuk menjadi makananku," ujarnya. Nabi Musa kemudian menawarkan kedua pahanya untuk disantap oleh burung elang tersebut. Kembali burung elang itu menolaknya.

Kali ini, burung itu mengajukan permintaan lain. "Bagaimana jika engkau menyerahkan kedua biji matamu saja? Sebab aku ingin memakan kedua biji matamu itu," ujar si burung elang.
Nabi Musa langsung menyetujui permintaan burung elang tersebut, asalkan si burung putih yang kecil tadi tidak disantapnya, la segera menidurkan badannya di tanah dalam posisi telentang. Burung elang pun segera hinggap di dadanya dan bersiap-siap untuk mematuk kedua mata Nabi Musa.

Yusa’ bin Nun yang menyaksikan kejadian itu menjadi panik. "Ya Nabiyyullah, apakah engkau menganggap enteng kedua matamu hanya karena persoalan burung-burung ini saja?" tanya Yusa’.
Seketika itu juga, burung putih kecil tadi keluar dari balik lengan baju Nabi Musa dan terbang menjauh. Melihat burung putih kecil itu pergi, burung elang tak jadi mematuk kedua mata Nabi Musa. Melainkan ia segera terbang mengejar burung putih itu. Tak berapa lama kemudian, kedua burung itu menghadap Nabi Musa. Salah seekor dari burung itu menjelaskan bahwa mereka adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail.

"Tuhanmu telah mengutus kami untuk mengujimu. Apakah engkau bersabar dengan ketetapan Allah ataukah tidak. Oleh karena itu, kami datang kepadamu menyerupai burung elang dan burung putih yang kecil seperti ini," ujar kedua malaikat itu.

Sebuah ujian, jika sudah diketahui akhirnya seperti kisah Nabi Musa itu, maka kita akan senang telah melaluinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Akan tetapi, bagaimana dengan ujian yang tidak kita ketahui kapan akan berakhir dan bagaimana hasil akhirnya?

Dapatkah kita bersabar sampai akhir dari ujian itu tiba? Wallihu a’lam bish-shawab. Semoga saja Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk melalui setiap ujian yang kita hadapi di dunia ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Amin.

comments powered by Disqus

Rendah Hati, Bukan Rendah Diri

Rendah hati artinya sifat bijak yang melekat pada sesorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih baik, tidak lebih mahir,tidak lebih pintar, tidak juga lebih mulia.

connect with abatasa