Or signin with Logo Abatasa
Forgot password?
Belum Jadi Member
Daftar Sekarang

Kolom»Hikmah»Menanam Kebaikan

Menanam Kebaikan

Dikisahkan oleh Fudhail bin Iyadh bahwa sahabatnya bercerita tentang seorang lelaki yang gemar menanam kebaikan.

Jum'at, 05 Oktober 2012

"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."
-QS AL-BAQARAH AYAT 261

Dikisahkan oleh Fudhail bin Iyadh bahwa sahabatnya bercerita tentang seorang lelaki yang gemar menanam kebaikan.
Lelaki itu berjalan ke pasar membawa benang tenun. Kemudian, ia menjualnya dengan harga satu dirham. Dengan hati riang, ia melangkah menuju kedai lainnya untuk, membeli tepung. Dalam perjalanan menuju kedai yang dimaksud, ia melewati dua lelaki yang sedang bertengkar. Ia segera mendekat, lalu bertanya, "Ada apa ini?"
Orang-orang pun menjelaskan bahwa kedua pemuda itu bertengkar gara-gara uang satu dirham yang mereka perebutkan. Lelaki itu teringat pada uang satu dirham yang ada di kantongnya. Maka segera diberikannya uang satu dirham tersebut kepada dua pemuda yang bertengkar tadi sehingga ia sendiri pulang dengan tangan kosong.

Ketika sampai di rumah, segera ia kabarkan pada istrinya tentang apa yang teijadi. Istrinya mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh suaminya. Namun, hatinya resah mengingat mereka tidak memiliki persediaan apa-apa lagi untuk dimakan pada hari ini.

Lelaki itu cepat tanggap dengan apa yang dirisaukan oleh istrinya. Sejenak kemudian, dimintanya sang istri agar mengumpulkan perkakas rumah yang bisa dijual. Istrinya segera mengumpulkan perkakas rumah yang bisa dijual atau digadaikan. Lelaki itu kembali pergi ke pasar untuk menjual atau menggadaikan perkakas rumah tersebut. Namun, tidak ada yang laku. Di tengah kegalauan, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang laki- laki yang membawa ikan busuk.

"Kau membawa sesuatu yang tidak laku dijual, demikian juga dengan ikan yang kubawa ini. Maukah kau menukar barangmu dengan ikanku ini?" tawar orang tersebut padanya.
Lelaki itu berpikir sejenak. Sesaat kemudan, ia pun menyetujui. "Paling tidak, ada yang bisa dimasak oleh istriku hari ini," pikir lelaki itu.

Ikan tersebut segera dibawanya pulang. Lalu, ia berikan pada sang istri untuk diolah. Istrinya segera menyiangi dan membelah perut ikan. Alangkah kagetnya sang istri ketika tiba-tiba dari perut ikan tersebut keluar mutiara yang indah berkilau.

"Ini sebuah mutiara!" seru sang istri.
Sang suami lalu mengambil mutiara itu dan pergi ke penjual mutiara. Mutiara tersebut berhasil dijual dengan harga 120 ribu dirham. Alangkah senangnya hati laki- laki tersebut ketika membawa dua belas kantong uang yang masing-masing berisi 10.000 dirham ke rumah. Sesampainya di rumah, uang tersebut segera disimpannya di tempat yang aman.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia menemukan seorang fakir miskin yang meminta-minta berdiri di depan pintu rumahnya. Lelaki itu pun kembali ke tempat penyimpanan uangnya dan mengambil separuh dari hartanya. Orang fakir itu meninggalkan rumah tersebut sambil membawa enam kantong uang yang diberikan lelaki yang gemar menanam kebaikan.

Tidak lama kemudian, lelaki fakir itu kembali lagi. Namun, tidak untuk meminta-minta. Ia datang menghampiri lelaki itu sambil berkata, "Sesungguhnya, aku bukanlah orang fakir atau miskin. Namun, aku adalah utusan Allah Swt., yakni Zat yang mengganti satu dirham yang kau sedekahkan dengan 20 qirath. Dan yang diberikannya kepadamu adalah baru satu qirathnya. Dia yang Maha Pemurah, masih menyimpankan untukmu 19 qirath yang lainnya."

"Sungguh, setiap kebaikan yang kita tanam akan menghasilkan buah. Oleh karenanya, jika ingin memanen kebaikan maka perbanyaklah menanam kebaikan dari sekarang. Sekecil apa pun kebaikan yang kita perbuat, akan mendapatkan balasan dari Allah azza wa jalla. Seperti janji-Nya dalam AlQur’an, surat Az-Zalzalah ayat 7-8: ‘Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."’

comments powered by Disqus

Ciri-ciri Ahli Ma`rifat

Hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki. Karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. Bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. Begitu pun cinta kepada manusia,

connect with abatasa